DIRTY BUSINESS - 5
|
|
Hai, Ken?! Kau tidak ingin memperkenalkannya kepadaku?”
mengusaikan ucapannya setelah lebih dahulu memberikan ciuman di pipi kanan dan
kiri, membuatku menatap Felix lekat dan justru dia balas dengan gelengan kepala
yang samar.
“Aku mengawasimu sedari tadi. Jangan menyalahkannya…”
“Salahkanlah dirimu sendiri yang tidak hati-hati” mengedipkan
sebelah matanya kearahku seraya menyinggungkan senyum palsunya, membuatku
kesulitan menghirup udara disekitar.
Sialan! umpatku dalam hati, mengingat aku terjebak di situasi
yang tidak mengenakkan seperti sekarang. Tetapi, aku sedikit bersyukur karena
ketika melihat sekilas kearah Zayn yang sepertinya sudah sangat hilang
kesadaran di tempat duduk VVIP yang
ada diujung sana.
“I’m sorry Mom?! Tapi, sepertinya aku dan Felix harus
pulang sekarang juga karena besok aku masih memiliki jadwal rapat di pagi hari”
meninggikan alisnya karena aku memberikan alasan demikian, tanpa mau perduli
ibuku pun lantas menarik lenganku begitu saja dan menjadi melemparkan tatapan
penuh ancaman pada Felix.”Kita kembali ke Mansion..”
titahnya.
“Tapi-”
“Aku tidak menerima penolakan…” tselanya penuh penekanan
seraya memberikan tatapan peringatan.
Hal ini yang akhirnya membuatku pasrah mengikuti keinginannya
dan tidak ada selera lagi untuk berdebat lebih lama dengannya, sehingga aku pun
memilih mengalihkan pandanganku saja dari pada harus mendengar desisan berupa sumpah
serapahnya atas kelakuanku.
Mendapati kesunyian di dalam mobil ini, membuatku memilih
untuk memejamkan mata selama perjalanan dan tidak menghiraukan keberadaan
siapapun disekitarku. Hingga beberapa saat kemudian suara pintu mobil yang kini
sudah terbuka, memaksaku untuk membuka mata dan segera turun saat ini juga.
Suka atau pun tidak suka. Pada akhirnya, dengan berat hati
aku tetap harus ikut melangkah memasuki Mansion utama ini guna
mengekori langkah cekatan milik ibuku dan terlihat adikku kini bersisian dengan
Felix yang sudah lebih dahulu berjalan di hadapanku.
Tepat ketika aku berada tepat di ambang pintu masuk dan
tergerak untuk menaiki tangga menuju kearah kamarku, suara lantangnya yang
memanggil namaku dari arah ruang tengah pun mampu mengejutkanku dan
menghentikan langkah kaki ini.
Menghembuskan nafas lelah dan terpaksa kembali berjalan
kearahnya yang sudah terduduk menegang di sofa ternyaman yang ada di ruang
tengah, membuatku juga ikut terduduk di hadapannya dan merasa begitu terintimidasi oleh tatapannya yang
nampak di penuh amarah dan bercampur dengan kekhawatiran.
“Pergilah ke kamarmu Kyl…”
“Aku akan tetap disini” bantahnya.
“Tidak ada pengulangan Kylie!” mendengar hembusan nafasnya
yang sengaja di hentak kasar, dia pun lantas bangkit dari keterdudukan. “Semoga
saja Tuhan tidak murka karena harus mendengar pertengkaran kalian lagi di Mansion ini” sindirnya seraya berlalu
dari ruangan ini, sedangkan aku dan ibuku tetap bungkam.
“Jangan menatapku seperti itu Mom..” keluhku, tanpa
mau menatapnya dan memilih menyandarkan diri di sofa dengan menarik bantalnya
dalam dekapanku.
“Tatapan apa yang kau maksud?”
“Amarah atau Jijik?” memberikan tatapan tidak percaya dengan
apa yang baru saja dia ucapkan, tak lantas dia hiraukan dan justru malah
mengendikkan bahu seolah tak mau tau atau memang seperti tidak ada yang salah
dalam ucapannya.
“Well.. seharusnya
kau merasa beruntung karena saat ini hanya aku saja yang melemparkan tatapan
jijik itu kepadamu” tuturnya penuh penekanan dengan nada yang emosional, seraya
menampilkan raut wajah kecewanya atas perilakuku. “Dan itu lebih menyakitkan
dibandingkan mendapatinya dari orang asing…”
“Oh God?! Kau
membuatku terihat seperti seorang ibu tiri” keluhnya, berhasil membuatku
berdecih. “Itu perumpamaan yang sangat tepat” ejekku.
“Come on... Kau
tentu tidak lupa tentang kejadian beberapa tahun lalu yang menimpa keluarga
kitakan Ken?” tidak ingin mendengarnya mengulang cerita tersebut karena
mengetahui akan berujung kearah mana pembicaraan ini, aku pun dengan kesal
melempar bantal ini kearah samping dan berdiri dari keterdudukkanku.
“We’re just have fun, Mom. That’s it..” ungkapku
sesuai fakta dan penuh penekanan seraya menatap matanya penuh ketidaksukaan.
“If you and him just have fun?! But, no boundary?
Seriously??”
“That’s a bullshit, Kendall Jenner?!” tuturnya yang
kini juga ikut berdiri dari keterdudukan dan membalas tatapanku tak kalah penuh
amarah. “Kami tetap memiliki batasan Mom?!
You don’t need to worry” peringatku.
“Satu tahun adalah waktu yang sangat lama”
“Dan aku tidak melihat hal itu diantara kau dan dia!”
tekannya yang membeberkan fakta tentang seberapa lama hubungan aku dan dia, dengan
jengah aku lantas bertelak pinggang kemudian menusap wajah secara kasar. “Ya,
itu semua karena aku tidak merasa perlu menujukkan batasan kami pada siapapun!”
“Lagi pula, aku bukan
anak kecil lagi yang harus selalu kau pantau segala kegiatannya!”
“Jangan lupakan bahwa kau masih terikat nama keluarga Ken”
“Dan itu artinya aku masih berhak mengetahui apapun tentang anak-anakku
tanpa perduli mereka suka atau tidak!”
“I need privasi, Mom”
“Tidak selama kau masih berhubungan dengan Zayn, Ken”
“Kami hanya sebatas bersenang-senang, tidak kau paham?”
“Oh God. Kau bahkan
bisa mencari kesenang dengan cara lainnya” keluhnya yang berhasil menimbulkan
decihan remeh dariku.
“Tapi itulah kesenangan yang aku cari selama ini!”
“Jadi maksudmu, kau ingin menentang peraturan di keluarga
ini. Begitu?” tuduhnya begitu menyinggung perasaanku, hingga aku pun terpaksa
mengeluh padanya. “Aku tidak bermaksud demikian Mom”
“Kalau begitu ikutilah peraturan keluarga ini dan berhenti menyembunyikan
apapun dari kami Ken” tertampar atas sindiran yang baru saja dia ucapkan
tentang aku yang menyembunyikan sesuatu darinya, membuatku dadaku berdenyut
nyeri dan kesulitan untuk menghirup udara dalam ruangan yang sama dengannya
saat ini. “Tidak perduli sekeras apapun usahamu…”
“Para pengusaha sepertinya tetap tidak akan pernah mendapatkan
tempat di dalam keluarga ini”
“So, pilihanmu hanya jauhi pria dari kalangan sepertinya. Atau aku
akan menceritakan hal ini kepada Will” ancamnya yang lantas membuat lututku
terasa lemas, hingga berakhir kembali terduduk di sofa dengan tatapan kosong.
“Apa kau mengancamku Mom?” merutuki pertanyaan bodoh
yang seharusnya tidak perlu aku tanyakan, membuatnya dengan percaya diri berlalu
meninggalkanku yang masih terduduk dengan segala ucapannya dan membuatku
membayangkan betapa kecewanya ayahku nanti.
Entah sudah sedari kapan dia kembali menyimak pertengkaran
yang selalu terjadi antara aku dan ibu-ku, tetapi terlihat jelas ada gurat
kesedihan menyelimuti dirinya yang menatapku dalam-dalam dan kemudian dengan
hebat dia tutupi dengan melempar senyum seraya berjalan ke arahku.
Menumpuhkan tangannya diatas tanganku seolah menyalurkan
kekuatan, membuat tubuhku justru melemah karena dia menyandarkan kepala di
bahuku. Tetapi karena tidak ingin merasa di kasihani dan membuatnya merasa
khawatir. Tanpa mau menambah banyak kesedihan dan berucap banyak, aku segera
menjauhkan tangannya dengan cepat.
“Sudah malam Kyl. Lebih baik kau tidur” mengangguk atas apa
yang aku ucapkan, dirinya justru menarik tanganku untuk berdiri dari
keterdudukan dan membuatku mengikuti langkahnya menuju meja makan.
“Sebelumnya
kau sudah janji untuk mencoba masakkanku, ingat?!” menggeleng dan menutup
mulutku rapat-rapat, kali ini dia memaksaku dengan cara menekan pipiku untuk
memakan tacos buatannya. ”Aku tidak
menaruh racun didalamnya Ken” ungkapnya terlihat sungguh-sungguh.
“Ya,
tapi aku sudah kenyang Kyl”
“Kau
tetap harus mencobanya” menggeleng dan tetap pada pendirianku, dirinya pun
lantas memajukkan bibirnya seraya kembali memohon “ Please, Ken?!”
“Cobalah sedikit saja ya?”.
“Oke..
oke…” Lantas terbuka pasrah sudah mulutku untuk menyantap makanan dari suapan
tangannya, sampai aku benar-benar menelan keseluruhannya. Dia pun dengan setia
menunggu pendapat dariku. “Bagaimana?” tanyanya begitu penasaran.
Dan
dengan mengangguk sebagai responku terhadap pertanyaan darinya, aku pun lantas
mengatakan yang sejujurnya “Better then
before”.
“Sungguh?”
tanyanya dengan mata yang berbnar-binar, sedangkan aku hanya kembali
menganggukkan kepala untuk menghargai masakkannya.
Sebab,
beberapa bulan lalu ketika Kylie tengah sibuk memasak tacos untuk
pertama kalinya dengan hasil yang pada akhirnya gagal total karena terlalu asin.
Aku menggodanya dengan dalih berjanji bahwa akan memberikannya hadiah dan juga menghabiskan
tacos buatannya sampai habis kalau memang tacos buatannya
layak dan enak menurut definisi lidahku.
Terbukti
ternyata sekarang adikku ini sudah pandai dalam memasak makanan yang menjadi
salah satu makanan kesukaanku, terlebih dia banyak menambahkan daging babi asap
dengan tambahan irisan tomat segar yang sangat menggugah selera.
“Kau
benar-benar sukses memajukkan waktu cheating
day-ku” keluhku sambil menikmati tacos
berikutnya.
“Jangan
khawatir?! Lelaki lebih suka wanitanya sedikit berisi”
“Karirku
jauh lebih penting…”
“5
kg tidak akan merubah karirmu”
“Aku
bahkan tidak masalah jika harus memasak untukmu setiap hari Ken…” ucapnya
begitu penuh percaya diri, seraya mengulurkan gelas dan membuka beberapa obat
dari dalam kemasan yang lebih dulu dia ambil dari clutch bag milikku kemudian menyuguhkan obat-obat itu tepat di
telapak tanganku.
“Thank’s,
karena sekarang kau juga menjadi ikut-ikutan seperti mereka yang memperlukanku
layaknya anak kecil” sarkas-ku seraya melepaskan sarung tangan berbahan kulit
yang aku kenakan, lalu menerima obat yang sudah dalam genggaman dan segera
menelannya hingga butir terakhir.
“Hanya
mencoba menjadi adik yang berbakti untuk kakaknya”
“Sesekali
tak masalah bukan?” berdecih karena ucapnnya, membuatku lantas mengangguk
setuju kemudian.
“Tentu
saja!” timpaku.
“Jangan
sungkan menceritakan apapun kepadaku Ken…”
“Ya…
Walaupun aku tidak bisa banyak membantumu” katanya selagi kami saling memandang
satu sama lain, setelah hampir beberapa bulan menjalani kesibukkan
masing-masing dan tidak bisa menghabiskan quality
time bersama.
“Cukup
bantu aku untuk menjaga mereka berdua Kyl”
“Itu
pasti Ken…”
“Bahkan,
Mom juga mengatakan agar aku
membantunya untuk menjagamu..” terangnya yang berhasil membuatku sedikit
terkejut, walaupun aku bisa dengan cepat menyembunyikan keterkejutanku itu
darinya. “Dia sangat perduli kepadamu Ken”
“Kami
selalu bertentangan?!”
“Kau
bahkan lihat tadi bagaimana dia sebegitu egoisnya tidak perduli terhadap
keinginanku” elakku, membuatnya menganggukkan kepala. “Itu benar…”
“Tapi
aku yakin, sekeras apapun dia menentang apa yang kau inginkan untuk hidupmu.
Hal itu tetap tidak akan merubah fakta bahwa keinginanmu itu lah yang
sebenarnya bisa membuatmu bertahan sampai detik ini”
“Ya,
walaupun kembali lagi itu semua tidak terlepas dari kalian yang pada akhirnya
kembali dalam perdebatan hebat…” menyinggung senyum seraya mengusap pucuk
kepalanya asal, membuatku dan Kylie memilih beranjak dari meja makan dan
menaiki tangga menuju kamar.
“Maaf
selalu membuatmu menjadi saksi dari perdebatan kami”
“Tidak
masalah, selama kalian tidak menjadikanku sebagai pelampiasannya” balasnya,
sedangkan aku mengangguk setuju.
“Aku
paham…”
“By the way, bagaimana hubungan dengan rapper itu?” tanyaku memecah kesunyian,
sebelum akhirnya kita benar-benar tiba di depan kamar masing-masing.
“Sudah
berakhir satu bulan yang lalu dan aku pikir bajingan bodoh sepertinya tidak
layak untuk aku pertahankan…” tuturnya di ikuti dengan menunjukkan ekspresi kecewa, membuatku ikut
tersenyum sendiri.
“Kalau
begitu berhentilah kencan dengan pria dari kalangan entertainment” balasku, membuatnya mengendikkan kedua bahu asal
sebagai jawaban dan tangannya tiba-tiba terlingkar erat memeluk pinggangku.
“Pesona mereka terlalu kuat Ken” keluhnya.
“Jangan
mengulangi sesuatu yang sudah pernah terjadi Kyl”
“Aku
akan lebih hati-hati” jeda sebentar setelah dia berucap demikian, aku pun
lantas mengusap lembut punggungnya.
“Selama
kau bahagia dengan itu, aku akan mendukung Kyl”
“Thank’s, Ken…”
“Ah
ya, apa benar mengenai berita itu?” mengerutkan dahi cukup dalam karena tidak
mengerti tentang berita apa yang dia maksud, membuat dia pun melepas pelukkan
dan menjadi memasang wajah merasa bersalah karena sudah bertanya demikian
kemudian memilih mengusap tengkuk lehernya asal.
“Berita?”
“Jadi..
Kau belum membaca beritanya?” tanyanya terdengar ragu, membutaku mengaggukkan
kepala cepat dan menatapnya sungguh-sungguh. “Belum…”
“Berita apa memangnya?”
“Sampai ragu dan memilih menanyakan kebenarannya langsung padaku?!” tudingku menunggu jawaban, membuatnya mengangguk kemudian.
“Mereka menulis berita mengenai dirimu yang katanya sudah mulai membuka hati dan itu untuk Justin. Apa itu benar?” mendengarnya berucap demikian membuatku kembali mengingat kebersamaan aku dengan Justin yang memang tanpa sengaja, sehingga aku memilih menghembuskan nafas lelah kali ini.
“Kyl…”
“Ada baiknya kau abaikan saja berita-berita sampah seperti itu”
“Kau bahkan sudah dengar sendiri tadi, bahwa aku kerap kali berkencan dengan pria dari kalangan pengusaha itu dari pada dengan Justin” jawabku final, yang kemudian dia balas dengan mengecup sebelah pipiku dan berlalu begitu saja.
“Ok, I’ll be trust you. And always…”
“Good night and have a nice dream, Ken” seru Kylie dari kejauhan dan menutup pintu kamarnya, membuatku mengerutkan dahi karena tingkah anehnya. “Yeah. Good night too”
Menapakkan
kaki untuk melangkah turun dari mobil limousine berwarna putih dan lantas
bersisian dengan ayahku untuk memasuki tempat berlangsungnya acara, mataku pun
kemudian mengedar ke segala sudut guna mengamati suasana hikmat di dalam gereja
St. Patrick’s Cathedral ini.
Jika
didepan sana banyak sekali para paparazzi yang menunggu berita, maka didalam
sini sungguh sesak dengan kehadiran para pengusaha hingga pejabat Negara yang
nampak serasi dengan pasangan juga anak-anak mereka.
“I’ve
been waiting for this Dad”
“Jangan
sungkan menceritakan segala hal padaku Ken”
“You
are the light of my life..”
“I
love you Dad” balasku yang sudah berkaca-kaca, namun ayahku dengan cepat
mengecup dahiku walaupun terhalang oleh veil. “I love you more, Ken..”
Menerima
genggaman tangannya, setelah ayahku selesai memeluk dan mengatakan sesuatu hal
tanpa bisa aku dengar, segalanya menjadi nampak lebih sempurna ketika pendeta
meminta agar kami melangkah lebih dekat dengan mimbar.
Prosesi
pun diawali dengan melantunkan pujian bersama-sama, pemberitaan firman Tuhan
dan disambung dengan upacara peneguh nikah. Namun, dia lantas bergerak gelisah
ketika pendeta mulai membacakan pertanyaan peneguhan.
“Apakah
saudara bersedia mengakui dihadapan Tuhan dan Jemaat-Nya bahwa saudara bersedia
dan mau menerima saudari Kendall Nicole Jenner sebagai istri saudara
satu-satunya dan hidup bersama dalam pernikahan suci seumur hidup saudara?”
“Maaf.. Saya tidak bisa” lantangnya dengan wajah tertunduk,
namun berbeda dengan ekspresiku yang kini justru menatapnya dengan nanar dan
dipenuhi rasa kekecewaan serta amarah yang sudah tidak sanggup lagi untuk
ditahan.
"Apa kau
gila, heuh?”
“Sadarkah kau,
L”
“Kata apa yang
baru saja keluar dari mulutmu itu?" tanyaku dengan nada seoktaf mungkin,
tidak perduli dengan beberapa ratus pasang mata yang memandang kearah kami.
Tidak perduli sudah bagaimana jadinya riasan diwajahku saat
ini, linangan air mata pun terus aja lolos dari mata indahku yang sudah dihiasi
eye shadow serta riasan mata lainnya.
“Maafkan aku
Ken”
“Tapi sungguh, aku
benar-benar tidak bisa melanjutkan acara pernikahan kita ini”
“Dihati dan
pikiranku bahkan hanya ada namanya, ketika ingin mengucapkan sebuah sumpah
pernikahan untuk kita” mendengar apa yang diucapkannya ini, hanya mampu dihadiahi
tawa miris serta gelengan kepala yang masih tak mempercayai apa yang telah
terjadi sebenarnya.
“Kau benar-benar
keterlaluan L” keluhku seraya menahan isakan dan sesak yang mengerubungi relung
hatiku dengan menggigit-gigit bibir bagian bawahku tanpa sebuah perasaan,
sebelah tanganku pun tergerak secara refleks menampar keras sebelah pipinya
hingga terlihat darah mengalir dibagian ujung bibir.
“Maaf Ken..”
Menutup
telingaku dan mengulurkan tangan seraya memohon untuk menstop ucapannya agar
tidak berbicara lagi, membuat kakiku terasa ingin cepat pergi dari tempat ini
sejauh mungkin.
Tetapi entah
kenapa, seperti ada lem menempel dibawah heels putih setinggi 12 centi yang
kupakai dan membuatku hanya mampu berdiri mematung tepat dihadapannya.
"Kamu harus
tau, bahwa hukum karma masih terus berlaku”
“Memang tidak
dalam bentuk yang sama”
“Tetapi aku akan
selalu berdoa, semoga saja cerita cintamu nanti dengannya yang katamu selalu ada
didalam bayangmu itu!”
“Tidak kalah lebih
menyedihkannya dari cerita cintamu denganku yang ternyata berakhir seperti ini”
ucapku sambil terisak namun penuh dengan ketegasan, bahkan tak segan aku
menunjukkan telunjukku tepat didepan wajahnya serta mengabaikan seruan
kekhawatiran orang-orang.
Seketika itu
juga aku langsung berbalik badan serta melepaskan dengan paksa veil yang
menutupi wajahku. Menyisihkan perasaan malu karena gagalnya pernikahan ini,
lantas aku pun mengabaikan pertanyaan dari seluruh orang dan segera melangkah
menuju pintu keluar gereja seraya menjinjing gaun putih dengan belahan dada
rendah yang aku gunakan saat ini. “Kendall kau mau kemana”
“Lepaskan
tanganku!” tukasku seraya menepis tangan kekar milik calon ayah mertuaku yang
mana sudah menahan sebelah pundakku agar tidak pergi berlalu pergi dari dalam
gereja ini.
“Mari kita
bicarakan ini baik-baik Ken”
“Aku yakin, L
tidak akan mungkin tega melakukan ini padamu jika bukan tanpa alasan yang kuat”
“Dan alasan
terkuatnya adalah karena memang dia tidak pernah mencintaiku?!”
“Tidak, itu
tidak benar!”
“L sangat
mencintaimu Ken?!” belanya penuh keyakinan, yang membuatku lantas berdecih
remeh seraya tertawa namun kembali menangis dengan bergerak menggelengkan
kepala. “Lupakan saja semua ini”
“Kendall, kau
mau kemana sayang”
“Aku ingin
sendiri Dad” pintaku yang memintanya untuk berhenti mengikuti dengan gerakan
tangan.
Memantapkan diri
untuk keluar dari gereja dengan berlinang air mata dan bukannya malah
menampakkan tawa bahagia bersama orang yang selama ini paling aku
harapkan, nyatanya justru lebih menarik perhatian para paparazzi hingga tak
henti-hentinya mengarahkan kamera mereka kepadaku.
“Berikan kunci
mobilku Felix”
“Tapi Nona..”
“Cepat! Berikan
padaku..” tekanku yang lantas dia indahkan, sehingga dengan cekatan aku lantas
mengemudikan mobil rolls royce kesayanganku yang berwarna hitam untuk keluar
dari area parkir gereja ini.
Terus menekan
gas hingga kecepatannya mencapai 100 km/jam, pemikiranku justru semakin
mengambil alih segala perasaaan hingga kembali memunculkan rasa tidak dihargai,
seolah pengorbanan juga ketidak putus asaan saat aku memperjuangkannya
bukanlah apa-apa.
Sialan!
Dengan terpaksa membanting stir dan menekan rem kuat-kuat akibat papan arah tujuanku telah terlewat, mobil ini pun tidak lagi dapat aku kendalikan dan mendapat hantaman dari sisi kiri juga dari arah depan hingga berhasil membuatku memejamkan mata serta kesulitan untuk bernapas.
Komentar
Posting Komentar