DIRTY BUSINESS - 20

 Terduduk di tepi tempat tidur seraya mencium keseluruhan wajah Paris karena gemas, berhasil membuatnya menggeliat tidak nyaman dan berpindah posisi menjadi menghadap kearahku. Dalam perasaan yang bimbang akan keputusanku yang ingin menikah, hal-hal kecil seperti inilah yang justruku membuatku merindukan kebersamaan dengannya.

Mungkin aku akan terlihat tega, jika aku memilih keputusan untuk menikah. Tatapi, bukankah suatu hari pun hal ini akan terjadi dan membuat aku ataupun Zayn mau tidak mau saling menerima perjanjian yang telah kami sepakati sebelumnya.

“Besok penerbangan jam berapa?” tanyaku kepada bibi Rozelle yang baru saja memasuki kamar dengan membawa dua koper berukuran besar.

“Sekitar pukul tujuh pagi” jawabnya.

“Maaf Tante, aku dan Zayn tidak bisa menemani kalian”

It’s Okay, aku mengerti posisi kalian” jelasnya.

Tante, bagaimana menurutmu kalau aku menikah?” tanyaku yang lantas membuatnya berhenti memasukan beberapa baju milik Paris kedalam koper.

“Serius? Apa keluargamu sudah setuju kalau kau menikah dengan Zayn?” tanyanya.

Tante, aku bukan menikah dengan Zayn” keluhku seraya berjalan kearahnya dan membantunya melipat beberapa baju milik Paris.

“Lalu, kau mau menikah dengan siapa?” tanyanya kemudian.

“Aku belum bisa memberitahu sekarang” kataku.

“Jangan pernah menjalani hubungan dengan sembunyi-sembunyi Ken. Cukup Paris saja yang kalian sembunyikan, jangan ada korban lagi ” jelasnya membuatku lantas berdengus kesal.

“Tapi Mom dan Dad juga bercerai dengan sembunyi-sembunyi” ungkapku membuat bibi Rozelle menoleh sepenuhnya kearahku.

“Kau sudah tau?” tanyanya.

Tante bahkan sudah lebih dahulu tau, yakan?” cecarku.

“Jangan contoh mereka berdua. Aku akan sangat marah kalau sampai kau bertindak seperti mereka Ken” jelasnya membuatku merebahkan kepala di pundak bibi Rozelle-adik dari ibuku.

“Setelah aku menikah nanti, keberadaan Paris nantinya sudah tidak akan kami sembunyikan lagi” ungkapku.

“Lalu, apa nantinya keberadaan Paris tidak akan menjadi masalah dalam keluarga barumu?” tanyanya seraya tetap melanjutkan melipat pakaian Paris, membuatku lantas menenggakkan kepala dari bahunya.

“Semoga saja tidak” ungkapku.

“Respon Zayn bagaimana? Apa dia setuju kalau kau akan menikah” tanyanya membuatku beraut wajah cemberut. 

“Kalau itu sih sudah jelas dia menentangnya Tante, dia kan paling suka kalau aku tidak menikah sama sepertinya” kataku, membuat yang sedang dibicarakan muncul diambang pintu.

“Perjanjian diantara kita yang harusnya kau pikirkan berkali-kali sebelum kau memutuskan untuk menikah” katanya seraya meletakkan stroller Paris dalam keadaan terlipat.

“Aku percaya kau bisa mengurus Paris dengan baik, makanya aku ingin menikah lebih dulu sebelum kau yang akan menikah” jelasku membuatnya kemudian berdengus seraya menunjukkan raut wajah menyebalkan.

“Aku tidak akan menikah, kau kan paling tau hal itu” jelasnya.

“Tapi lain halnya kalau Gigi yang menjadi pendampingmu, yakan?” elakku tak mau kalah.

“Alasan, bilang saja kau ingin lepas tanggung jawab” tuduhnya membuatku lantas melempar bantal sofa kearahnya.

“Jaga kata-katamu!” ancamku

“Sudah-sudah jangan bertengkar, nanti Paris terbangun” peringat bibi Rozelle.

“Salahkan dia kalau begitu” kataku seraya menunjuk ke arah Zayn yang nampak menggenggam bantal sofa dalam dekapannya.

            Mendapat banyak informasi tentangnya dari informanku, membuatku harus bangun di pagi hari guna membantu Dani-kepala pelayanku menyiapkan beberapa makanan untuk sarapan pagi. Kesulitan membantunya memasak, satu-satunya hasil dari kerja kerasku dalam memasak hanyalah roti panggang.

Lebih dahulu menikmati sarapan, kini aku pun segera menyiapkan kotak makan yang aku isi dengan daging babi asap, telur, jamur dan roti panggang.

Berjalan kearah Mansion-nya dengan membawa bekal sarapan, jam di pergelangan tanganku pun tepat menunjukkan pukul 9 pagi sangat bertepatan dengan waktunya pulang hiking.  

“Kendall? Ada apa?” tanyanya.

“Sudah sarapan?” ucapku balik bertanya.

“Belum, aku baru saja pulang hiking” katanya seraya mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil yang terlingkar dilehernya yang putih.

“Ini sarapan untukmu” kataku seraya menyerahkan kotak makan berisi bekal kearah tangannya.

“Untukku?” tanyanya sekali lagi dengan tatapan antusias.

“Iya untukmu, aku harap kau suka” jelasku seraya tersenyum ramah kearahnya yang nampak menghirup aroma bekal yang baru saja aku berikan.

“Aku tentu suka, tapi kenapa kau memberikanku sarapan?”

“Aku masak banyak untuk sarapan, makanya aku membaginya kepadamu” alibiku yang tidak ingin misiku gagal nantinya kalau aku jujur, memberinya makanan karena ingin dia setuju menikah denganku. 

 Dipersilahkan masuk kedalam Mansion Harry untuk yang kedua kalinya, membuatku mengetahui bagaimana letak ruangan didalamnya. Memasuki ruangan makan berada, kini dia pun mempersilahkanku duduk untuk menemaninya sarapan.

“Bagaimana?” tanyaku meminta pendapatnya.

“Enak” jawabnya.

“Sungguh?” tanyaku yang dia jawab dengan mengangguk karena mulutnya sibuk menikmati daging babi asap dan roti panggang hasil kerja kerasku dalam memasak.

“Ah, syukurlah” ungkapku lega.

By the way, kau tidak memiliki pelayan?”

“Aku tidak suka tinggal bersama orang asing. Lagi pula, aku bisa melakukan segalanya sendiri” katanya.

“Termasuk membersihkan keseluruhan Mansion ini?” tanyaku penasaran seraya menyesap orange jus yang dia sediakan.

“Ya termasuk hal itu” jawabnya.

“Kalau kau sedang tidak dirumah bagaimana? Mansion ini pasti kotor karena tidak ada yang mengurusnya?!”

“Satpamku bisa membantu untuk yang satu itu” jelasnya.

“Harry…” panggilku.

“Ya?” tanyanya.

“Bagaimana kalau kita menikah saja” ungkapku yang membuatnya tersedak, sehingga dengan cepat aku menyuguhinya orange jus milikku.

“Jadi, kau membuatkanku sarapan karena ada maunya?”

“Tidak bukan begitu?!” dalihku.

Mengabaikan penjelasakanku akan pernikahan yang menjadi misi utamaku mendekatinya, membuatnya kemudian menjadi sangat menyebalkan karena mendorong tubuhku keluar dari Mansion-nya dan menyerahkan kembali sisa bekal dalam kotak makan yang aku berikan untuknya. “Please Har, dengarkan dulu penjelasan dariku”

“Tidak. Aku tidak mau mendengar semua ide-ide konyolmu” ungkapnya seraya menyingkirkan tanganku yang memegang tangannya.

“Aku janji akan memberikanmu apapun, asal kau setuju untuk menikah denganku” jelasku.

“Kau mau apa?”

“Kamera paling mahal?”

“Motor Harley Davidson?”

“Liburan ke Las Vegas?”

“Atau Saham?” sebutku satu persatu, berharap dia akan berubah pikiran dan setuju akan ideku mengenai pernikahan.

“Tidak. Aku tidak tertarik” jawabnya.

“Lalu kau tertarik dengan apa?” tanyaku.

“Aku tidak tertarik untuk mempermainkan sebuah pernikahan seperti idemu itu” jelasnya membuatku lantas menunjukkan jari kelingkingku kearahnya.

“Aku berjanji pernikahan ini tidak untuk main-main”

“Aku tidak cinta denganmu” katanya.

“Aku juga, tapi apa susahnya mencoba?” tawarku.

“Tidak” putusnya seraya menutup pintu Mansion.

Menyebalkan!!!!!

Beberapa hari terus menerus melakukan beberapa hal yang bisa membuatnya luluh, aku berjanji kali ini adalah hal terakhir yang akan aku lakukan. Pasalnya, aku sudah bosan memohon agar dia mau menikah denganku.

“Liam?!” panggilku.

“Ya Ken?” jawabnya seraya menghampiriku.

“Harry belum datang?” tanyaku seraya melihat jam yang terlingkar di pergelangan tanganku.

“Dia baru saja pulang Ken. Tadi sih dia bilang ada janji dengan adiknya” jelas Liam, berhasil membuatku bersumpah serapah didalam hati.

“Tidak kembali lagi?” tanyaku.

“Sepertinya si tidak, sebentar lagi juga aku mau tutup” jelasnya seraya merapihkan beberapa alat-alat untuk men-tattoo.

“Mau kemana? Tidak biasanya kau tutup jam 7” tanyaku seraya melihat-lihat beberapa gambar tattoo yang ada di buku.

“Ingin menonton basket” jawabnya.

“Aku mau tattoo yang ini” kataku seraya menunjuk tattoo bertuliskan baby.

“Harry tidak akan suka wanita ber-tattoo” ungkapnya seraya menatap mataku sungguh-sungguh sedangkan tangannya sibuk membersihkan kaca.

“Tidak ber-tattoo pun belum tentu dia suka padaku..”

“Kenapa? Putus asa?” tanyanya.

“Aku seperti wanita tidak punya harga diri yang sibuk mengejar dia, yang jelas-jelas sudah menolakku mentah-mentah…” ungkapku seraya menutup kembali buku berisikan gambar tattoo.

“Harry masih trauma mungkin…”

“Justru itu aku ingin membantunya agar dia tidak lagi trauma dengan mengajaknya menikah” jelasku.

“Dan kau ditolak?” tanyanya dengan raut wajah datar.  

“3 kali aku ditolak. Coba bayangkan, padahal aku siap memberikan apapun agar dia mau menikah denganku” jelasku membutnya kemudian tertawa terpingkal-pingkal.

“Coba kau jual mahal…”

“Aku yang mengejar-ngejar saja tetap di tolak. Bagaimana kalau aku jual mahal..” jawabku seraya berpangku tangan di atas meja.

“Kau mau menonton basket bersama siapa?” tanyaku.

“Sendiri” jawabnya.

“Aku ikut boleh tidak?” terkejut atas pertanyaanku membuatnya berhenti mengelap kaca dan berbalik menghadap kearahku.

Paparazzi bagaimana?”

“Abaikan saja”

“Harry bagaimana?” tanyanya.

“Biar saja dia cemburu” jawabku seraya memilih terduduk di sofa yang disediakan khusus untuk pelanggan Liam.

“Yasudah, tunggu sebentar lagi…” katanya yang memperbolehkanku ikut bergabung menoton basket. 

Komentar

Postingan Populer