DIRTY BUSINESS - 18
Beberapa hari berlalu, kini aku sibuk mengerjakan beberapa design gaun untuk fashion
show musim panas yang akan segera tiba. Akan tetapi waktu istirahat pun
tiba, membuatku mau tidak mau tetap melanjutkan design sendirian sedangkan para karyawan aku persilahkan untuk
menikmati waktu istirahat dan makan siang.
From : Dad
‘Kita undur makan
siang bersama menjadi pukul 14.00 PM.
Love you girl’
To : Dad
‘Ok’
“Sepertinya
aku datang diwaktu yang tidak tepat..” ujarnya membuatku lantas menoleh
kearahnya yang nampak berdiri diambang pintu dan meletakkan ponselku diatas
meja.
“Sama
sekali tidak, masuklah..” jawabku seraya menutup lembaran-lembaran sketsa dan
berjalan kearah cellar kecil untuk
mengambil wine.
“Jadi,
bagaimana?” tanyaku.
“Aku
setuju dengan kontrak kerjasama yang kau ajukan untukku” jawabnya seraya
berjalan masuk dan terduduk di kursi tamu dalam ruangan kerjaku.
“Syukurlah
kalau begitu. Sebentar, akan aku ambil dulu kontrak kerjasama kita” kataku
seraya berhenti menuangkan wine
kedalam gelas miliknya dan berjalan kembali kearah brankas.
“Silahkan
tanda tangan” kataku seraya menyuguhinya beberapa dokumen yang aku ambil dari
dalam brankas.
“Sudah”
katanya seusai menanda tangani kontrak kerjasama, membuatku mengulurkan tangan
kearahnya dan dia balas dengan mengindahkan uluran tanganku.
“Thank’s Cara” ucapku.
“Aku
juga terima kasih, kau masih percaya dan mau tetap bekerjasama denganku Ken” jawabnya.
“Kau adalah model ambassador kami sejak lama, mana mungkin hanya karena skandal
pribadimu. Aku jadi tidak lagi mau bekerjasama denganmu” jelasku seraya
mengangkat gelas wine.
“Thank’s”
katanya seraya ikut mengangkat gelas dan kami sama-sama menyesap perlahan wine didalamnya.
“Well, besok
kau akan langsung aku jadwalkan untuk sesi foto shoot, bagaimana?” kataku.
“Ok, aku siap. Dimana?” tanyanya yang penuh dengan
antusias.
“Ini kartu namanya, aku harap kalian bisa
bekerjasama dengan baik” kataku yang memberinya kartu nama Harry.
“Ed’s Studio?”
tanyanya yang aku indahkan dengan anggukan kepala, kemudian aku berjalan kearah
brankas untuk kembali memasukkan
dokumen perjanjian kotrak kerjasama ini.
“Besok pukul 9 pagi. Well, aku harap kau jangan sampai telat”
“Tentu, aku pasti on time” jawabnya.
Melihat jam di lingkaran tanganku, segera aku pun
bersiap untuk memenuhi janji makan siang bersama Ayahku restaurant yang strategis
jaraknya antara kantorku dengan kantornya. “Kita makan siang bersama
bagaimana?” ajakku.
“Boleh” jawabnya.
Menggunakan mobilku untuk pergi ke restaurant yang mana sudah Ayahku booking terlebih dahulu, hanya butuh
waktu lima belas menit untuk sampai di restaurant tersebut. Akhirnya aku dan
Cara pun turun dari mobil dan mulai melangkah memasuki restaurant.
“Selamat siang, Dad”
sapaku dari arah belakangnya, membuatnya menoleh dan memberikan kecupan kanan
dan kiri.
“Selamat siang, Tuan Brian” sapa Cara yang sudah
berdiri di sebelah kiriku.
“Selamat siang, duduklah duduklah..” ucapnya
tergugup.
“Maaf aku tidak bilang akan membawa partner kerjaku lebih dulu Dad” ungkapku, membuatnya lantas
tersenyum ramah kearah Cara dan Cara pun demikian.
“It’s Okay,
Princess” jawabnya.
“Cara Fath” ucapnya seraya mengulurkan tangan kearah
ayahku dan lantas diindahkan dengan menjabat uluran tangan Cara di hadapannya.
“Cara ikutlah berbelanja dengan kami” ajak ayahku
seraya mengeluarkan kartu AMEX
miliknya, seusai kami menghabiskan makan siang bersama.
“Tidak terimakasih, aku langsung pulang saja Bri- Ah
Tuan Brian maksudku” katanya membuatku lantas meninggikan sebelah alis dan
teraihkan karena ponselku berdering.
“…Aku sedang makan siang bersama ayah dan Cara, ada
apa Hails?”
“…Kalau begitu suruh saja dia datang kesini”
“…Baik, baik. Aku tunggu” putusku mengakhiri
panggilan dari Hailey. Kemudian melihat kearah ayahku yang nampak masih sibuk
membayar tagihan makan siang kali ini.
“Siapa?” tanyanya kemudian.
“Partner kerjasamaku sedang menuju kemari. Ada
sedikit urusan sebentar, tidak apa kan?” tanyaku ragu.
“It’s okay
princess. Aku masih punya waktu untuk setengah jam kedepan” jawabnya.
“Ken aku permisi ketoilet sebentar ya” ujarnya yang
indahkan dengan mengangguk tersenyum.
Lima menit kemudian orang yang aku tunggu-tunggu
tiba, bersamaan dengan Cara yang datang daria arah toilet. Akan tetapi, langkah
keduanya nampak menjadi perlahan untuk menuju kearah mejaku dan ayahku
terduduk.
“Kendall!!” serunya dari kejauhan, namun raut
wajahnya lantas berubah ketika ayahku berbalik menghadapnya dan dia yang
semakin mendekat kearahku.
Akan tetapi, tanpa aba-aba Harry justru menarik
kerah baju ayahku dan hal itu membuat aku dan Cara dengan cepat memisahkan
keduanya. “Cukup, cukup!” kataku seraya menampar wajahnya.
“Apa kau sudah gila?! Tidakkah kau melihat kita
sedang dimana? Memalukan!” ujarku menjadi pembatas antara dia dengan ayahku,
karena Harry hampir saja meninju wajah ayahku.
“Ya aku mungkin sudah gila! Tapi aku gila karena
bajingan satu ini dan wanita disebelahnya” ungkapnya yang menujuk ayahku dan
Cara dengan raut wajah penuh emosi.
“Jaga kata-katamu Harry” peringat Cara.
“Jangan memerintahku Cara!” katanya.
“Kalian saling mengenal?” tanyaku.
“Tanyakan sendiri pada bajingan satu ini” jawabnya
“Dia ayahku Harry, dia punya nama!” peringatku.
“Mereka adalah sepasang kekasih Ken!” jelasnya yang
sontak membuatku menggelengkan kepala tidak percaya begitu saja dengan apa yang
Harry katakan.
“Apa benar Dad?”
“Kita jelaskan nanti dirumah” jawabnya membuatku
lantas terduduk lemas di kursi restaurant
sedangkan ayahku lantas menggenggam tangan Cara dan berlalu pergi meninggalkan
restaurant ini.
Dasar
ular!
Aku tidak habisa pikir, bisa bisanya Ayahku
selingkuh di belakag ibuku dengan wanita ular sepertinya.
“Ken. Sorry” ujarnya padaku.
“Sejak kapan Har?” tanyaku penasaran.
“Sejak gossip
tentangnya sebagai model one night stand
ada, Ken” jelasnya membuatku menutup mata sejenak guna menenangkan pikiranku
yang kacau dan perasaan kecewa terhadap keduanya.
“Jadi, orang-orang yang memukulimu minggu lalu
adalah orang-orang suruhan ayahku?” simpulku, membuatnya menganggukan kepala
seraya berdengus remeh.
“Ayo, ikut aku…” kataku yang lebih dulu bangkit dari
keterdudukan seraya meraih tangannya.
Ingin tau apa yang akan ayahku jelaskan, akhirnya
aku memilih pulang bersama Harry yang mengikuti mobilku dari arah belakang
menggunakan motor kesayangannya.
Memasuki pelataran Mansion, bisa kulihat ada banyak sekali bodyguard yang berjaga di Mansion
ini. Berjalan bersebelahan dengan Harry, bisa aku lihat Cara yang tertunduk
malu di kursi ruang tamuku.
“Aku minta kau pulang, bukan berarti kau membawanya
ikut Kendall” ujar ayahku.
“Ini Mansion-ku,
Dad. Aku berhak memilih siapa saja
yang boleh dan tidak boleh berada disini!”
“Dan aku tidak mengizinkan wanita ular sepertinya
masuk kedalam Mansion-ku!” jelasku
yang lantas membuat ayahku menghampiriku dan ingin melayangkan tamparan
kewajahku tetapi lebih dahulu di halau oleh Harry.
“Ini kali pertama kau ingin menamparku dan lebih
memilih wanita ular ini, Dad”
lirihku.
“Lebih baik aku pulang saja” katanya seraya
tertunduk malu.
“Tidak Cara” cegah ayahku.
”Apa Mom tau
tentang hubungan kalian?” tanyaku.
“Aku sudah menghubungi Ibu dan adikmu, sebentar lagi
mereka akan datang dan Ibumu akan segera menjelaskan segalanya padamu dan
kylie” jelas ayahku membuatku pada akhirnya bisa menebak bahwa ada sesuatu yang
mereka tutupi dari aku dan Kylie selama ini.
Setengah jam menunggu kedatangan ibu dan adikku,
ternyata jawaban yang ibuku keluarkan hanya berujung satu kata yaitu
perceraian. Entah kapan keduanya telah berpisah, yang aku rasakan justru
kekecewaan yang mendalam terhadap keduanya.
Pasalnya tidak ada satu pun dari mereka yang meminta
solusi terhadap aku mau pun adikku. Tapi, satu hal yang aku yakin bisa membalas
rasa kecewaku saat ini adalah memanfaatkan kehadiran harry dan juga Cara.
“Aku juga ingin mengumumkan sesuatu pada kalian
semua” ujarku, membuat yang lain menoleh kearahku.
“Aku dan Harry akan menikah” ungkapku yang sontak
membuat ayahku membanting gelas wiskey dalam
genggamannya kearah tembok.
“Hal itu tidak akan pernah terjadi” cegahnya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Tidak! Kendall Jenner!” ucapnya dengan nada tinggi.
“Kalau kalian saja bisa bercerai tanpa sepengetahuan
aku dan Kylie, lalu kenapa juga aku harus memberitahukan kapan aku dan Harry
akan segera menikah!” ancamku.
“Kendall!” peringat Ibuku.
“Aku mendukung keputusanmu kali ini Ken” ungkap
adikku.
Komentar
Posting Komentar