DIRTY BUSINESS - 19

"Aku jadi penasaran, ada hal apa sebenarnya yang membuat Cara sampai begitu spesial dibandingkan dengan Ibuku, Dad?” tanyaku penuh amarah dihadapan ayahku seraya menunjuk kearah Cara maupun Ibuku.

“Cara sedang hamil Ken, itulah alasan kenapa aku bercerai dengan Ibumu dan itu juga yang menjadi alasan kenapa aku mengirim orang-orangku untuk menghabisinya yang terus menerus mengganggu Cara” jelasnya seraya menunjuk kearah Harry.

Astaga, drama apa lagi ini Tuhan?!

Entahlah, sepertinya ayahku saat ini sedang puber kedua sampai-sampai dia tega melakukan hal demikian tanpa berkaca lebih dulu bahwa umurnya sudah tidak lagi muda dan bahkan sebanding dengan Cara.

“Astaga Dad, bisa-bisanya kalian berbuat hal terlarang seperti itu dibelakang kami. Apa kalian tidak malu?” ucap Kylie yang sangat mewakili perkataanku.

“Maafkan aku” ucap Cara masih tertunduk malu.

“Selamat kau sudah berhasil menghancurkan keluargaku. Aku harap kau puas Cara” ketusku.

“Silahkan semua keluar dari sini, kecuali kau Harry. Kau ikut denganku?!” ujarku seraya menggenggam tangannya dan berlalu meninggalkan ruang tamu guna  berjalan menuju kedalam kamar.

“Jaga caramu bersikap Kendall?!” peringat Ayahku yang tidak aku pedulikan, sebab dia pun tidak lagi memberikanku contoh yang benar.

Memasuki kamar bersama dengan Harry, kini yang mampu aku lakukan hanya terduduk diam dikursi meja rias dan tidak tau ingin melakukan apa dengan adanya Harry dihadapanku saat ini.

“Ken” katanya membuatku menoleh kearahnya.

“Har, sungguh. Maafkan aku yang menggunakanmu untuk membuat mereka kesal tadi” sesalku membuatnya lantas berjongkok di hadapanku dan menggenggam erat kedua tanganku tanpa permisi.

“Tidak apa-apa Ken. Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang dan aku turut sedih mendengar tentang perceraian Ibu dan Ayahmu” ucapnya.

Thank’s, tapi Har

“Bisakah kau membantuku membalaskan perbuatan mereka terhadap kita?” ujarku yang sudah kehabisan akal.

“Aku akan membantumu selagi aku bisa Ken. Tapi, kalau untuk menikah denganmu. Maaf, aku rasa itu adalah hal yang tidak akan mungkin” jelasnya seraya mengelus lembut dan menggenggam erat kedua tanganku. “Tapi kenapa?” tanyaku.

“Karena kita asing Ken”

“Pertemuan kita bahkan masih bisa terhitung” jelasnya membeberkan fakta yang juga aku benarkan, walaupun dalam hatiku ingin sekali kalau Harry menyetujui rencanaku untuk bisa membalaskan perbuatan Ayahku dan Cara.

“Apa kau tidak sakit hati Har, melihat mereka bersama?”

“Aku bahkan sudah pernah melihat keduanya tanpa busana di kamar hotel Ken” terkejut akan pernyataannya, membuatku ikut menggenggam erat tangannya guna menahan kesal.

Tok..tok..tok..

            “Ken, boleh aku masuk?” ujar Ibuku dari balik pintu kamar.

“Mereka sudah pergi, hanya tinggal aku dan Mom. Bisakah kita bicara secara kekeluargaan sebentar Ken?” sambung adikku. 

“Tidak Mom, Kyl…”

“Aku tidak ingin bertemu dengan kalian untuk saat ini, lebih baik kalian pergi dari Mansion-ku dan kita bicara besok” putusku tidak ingin di debat.

“Ibu dan adikmu pasti khawatir Ken” katanya.

“Biarkan saja. Saat ini yang aku butuhkan hanya kita yang membicarakan soal ideku tentang pernikahan” jawabku seraya menatap mata hijaunya yang nampak terkejut karena perkataanku ini.

“Ken aku-” belum selesai dia berucap, aku sudah lebih dahulu mengecup bibirnya dalam dan mencari tatapan matanya yang sekali lagi terkejut karena perbuatanku.

Gagal menarik diri dari hadapanku, karena aku lebih dahulu menarik sebelah tangannya. Dapat aku lihat wajahnya merona merah, sedangkan kedua matanya sibuk menghindar dari tatapanku. Sehingga dengan berani sekali lagi aku menarik dagunya guna membuatnya untuk menatap kedua mataku.

“Tidak perlu merasa malu jika denganku Har”

“Aku bahkan rela melakukan apapun untukmu, agar kita tetap menikah. Bagaimana?” tawarku membuatnya lantas berdengus kasar dan melepaskan tangannya dari genggamanku.

“Aku tidak bisa menikah denganmu hanya karena kau ingin balas dendam kepada Ayahmu dan juga Cara, Kendall”

“Tapi hanya alasan itu yang paling masuk akal untuk saat ini Harry” ucapku tak mau kalah.  

“Kalau begitu gunakanlah akalmu untuk cara yang lain. Karena aku tidak mau membuang waktuku hanya untuk membalas dendam pada mereka berdua. Aku masih memiliki urusan lain yang jauh lebih penting” mengangguk paham atas apa yang menjadi keputusannya, ide lain pun terlintas dalam pikiranku agar Harry setuju menikah denganku nantinya.

            Tidak tidur selama beberapa hari akibat memikirkan cara untuk balas dendam kepada Ayahku dan Cara, kini aku pun menjadi tidak produktif dan sedari tadi hanya memandang Mansion milik Harry ditemani oleh Six yang sedang asik bermain bola yang kulempar di halaman belakang.

Aku pikir, membuat seseorang jatuh cinta kepada kita bukanlah hal yang sulit untuk aku terapkan. Khususnya kepada Harry, walaupun nantinya akan terkesan aku yang mengejar-ngejarnya. Aku tidak perduli, yang terpenting adalah misi balas dendamku bisa terwujud.

Good job Six..” ungkapku karena dia berhasil mengambil bola yang aku lempar.

To : Zayn

‘Ada yang ingin aku bicarakan mengenai Paris’

From : Zayn

‘Temui aku di Mansion malam ini. Paris terus menanyakan tentang Ibunya’

 

Memilih mengusaikan bermain dengan Six dan bersiap-siap untuk menemui Zayn, tidak lupa aku menikmati makan malam yang telah disediakan oleh Dani-kepala pelayan di Mansion ini.

“Jangan melamun” peringat Hailey.

“Aku akan pergi menemui Zayn” kataku.

“Para bodyguard yang dikirim ayahmu bagaimana?”

“Tolong bantu aku Hails” pintaku seraya menggenggam erat tangannya di atas meja makan.

“Baiklah-baiklah, serahkan padaku…” setujunya yang ingin membantuku.

Memasuki mobil range rover hitam milikku dengan menggunakan hodie hitam persis seperti penampilan Hailey setiap harinya, dari sudut mataku bisa aku lihat Harry baru saja lewat menggunakan motor kesayangannya yang aku perkirakan dia baru saja pulang kerja. Tidak ingin terdistraksi, segera aku pun duduk tenang menggunakan kembali kacamata hitam dalam genggaman.

“Hai Ken” sapa Zayn begitu aku sampai memasuki Mansion dan tidak lupa untuk memberikanku kecupan di pipi kanan juga kiri. 

“Paris mana?” tanyaku.

“Dia baru saja tidur. Kau terlambat…” ucap bibi Rozelle seraya memberikanku kecupan di pipi kanan dan kiri, persis seperti apa yang telah dilakukan oleh Zayn tadi.     

Tante, bisakah tinggalkan kami berdua?” tanya Zayn.

“Baiklah, baiklah. Kalian bisa membicarakannya. Aku tidak akan mengganggu…” ucap bibi Rozelle yang kemudian menepuk bahuku guna memberi support dan belalu pergi meninggalkan aku bersama Zayn di ruang tamu.

“Aku ingin kita membicarakan tentang keberadaan Paris, Zayn”

“Baiklah, aku akan mendengarkan” ucapnya.

“Bagaimana kalau setelah aku menikah, kita publikasikan mengenai Paris?” kataku yang nampak membuatnya terkejut sekaligus menertawakanku.

“Kau pasti bercanda?! Iyakan?” ujarnya.

“Aku serius Zayn, aku akan menikah” yakinku dengan raut wajah paling serius yang aku bisa.

“Kau tidak lupa dengan peraturan yang ada diantara kita kan, Ken? Atau aku perlu membacakannya lagi agar kau ingat?” jelasnya membuatku lantas menghirup udara banyak-banyak.

“Aku percaya padamu Zayn” ungkapku.

“Astaga Ken, laki-laki mana yang bisa membuatmu menjadi seperti ini. Tega meninggalkan anaknya demi bisa menikah??”

“Aku tidak berkeinginan untuk meninggalkannya! Tapi perjanjian itu yang mendesakku Zayn.” Keluhku.

“Kau pernah bilang bahwa menikah adalah hal terakhir yag kau inginkan, lalu kenapa sekarang kau ingin sekali menikah Ken?”

“Aku berubah pikiran Zayn” jelasku seraya memainkan kedua tangan dalam genggaman, karena aku mulai merasa cemas.

“Dengan siapa kau akan menikah?”

“Aku belum bisa bilang sekarang” ucapku seraya menatap mat hazelnya dalam-dalam, guna meyakinkan bahwa aku benar-benar serius akan menikah.

“Akan aku ambil dokumen perjanjian kita agar kau bisa berpikir jernih Ken” ucapnya seraya berjalan meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.

 

[Co-parenting agreement]

 

Perjanjian ini di bentuk atas persetujuan kedua belah pihak.

 

Pihak pertama – father ; Zayn Javvad Malik

Pihak kedua – mother ; Kendall Nicole Jenner

 

Kedua belah pihak memiliki kewajiban memelihara dan mendidik anak kandung mereka yaitu; Paris Coleyn Malik. Hal tersebut berdasarkan kepentingan anak tersebut, kemudian berdasarkan perjanjian : Pihak pertama bertanggung jawab atas semua biaya pendidikan serta biaya kehidupan yang diperlukan anak kandung mereka; Paris Coleyn Malik.

Pihak kedua bertanggung jawab atas kesehatan mental maupun fisik sang anak kandung mereka; Paris Coleyn Malik

Dimana, kedua belah pihak nantinya di wajibkan untuk memelihara serta mendidik anak; Paris Coleyn Malik hingga dewasa. Dengan catatan hak asuh : Bila salah satu dari kedua belah pihak menikah lebih dahulu, maka hak asuh sang anak kandung yaitu; Paris Coleyn Malik jatuh ke pihak yang belum berkeluarga.

Juni 17, 2018

Pihak satu ; Zayn Javvad Malik

Pihak dua ; Kendall Nicole Jenner

 

Menyerahkan kembali dokumen perjanjian hak asuh, kini aku merebahkan tubuhku bersandar pada sofa. Sedangkan Zayn kemudian pindah duduk menjadi disisi sebelah kananku.

“Setidaknya katakan sesuatu Ken. Jangan membuatku bingung” ungkapnya seraya menyingkirkan anak rambut diwajahku.

“Aku ingin menikah Zayn” ungkapku seraya menatap kedua mata hazelnya dengan tatapan sungguh sungguh, membuatnya kemudian tersenyum. 

“Kenapa tiba-tiba?” tanyanya.

“Ada beberapa hal yang tidak bisa aku jelaskan Zayn” keluhku.

“Aku akan mendengarkan” paksanya.

“Kedua orangtuaku sudah bercerai” ungkapku yang kemudian membuatku menghembuskan nafas dalam-dalam. 

“Lalu, apa hubungannya dengan kau yang ingin menikah? Perceraian seharusnya membuatmu merasa malas untuk menikah bukan? Tapi kenapa ini justru sebaliknya” tanyanya.

“Aku hanya ingin membuktikan saja, kalau pernikahanku nanti jauh lebih baik daripada pernikahan orang tuaku Zayn” alibiku guna menghindari pertanyaanya akan kenapa aku ingin menikah.

“Kalau begitu, ayo kita menikah” ajaknya membuatku kemudian tertawa terbahak-bahak, merasa lucu akan ajakannya untuk menikah karena selama ini pernikahan adalah hal yang paling kami hindari selama ini.

“Menikah denganmu sama saja dengan mencari masalah Zayn” ungkapku, mengingat betul bahwa kedua orangtua ku akan lantas menolaknya mentah-mentah dengan alasan apapun.

“Sudahlah aku pulang saja” kataku seraya bangun dari keterdudukan.

“Aku serius Ken. Ayo kita menikah…”

“Kau mau kapan? Besok, Lusa atau kapan?” tanyanya antusias.

“Tidak denganmu Zayn Javvad Malik” putusku seraya berlalu dari hadapannya dan berjalan kearah tangga menuju kamar Paris.

Komentar

Postingan Populer