DIRTY BUSINESS - 17
Sibuk berbelanja keperluan dapur sesuai dengan list dari kepala pelayan di Mansionku untuk acara makan malam, beberapa bodyguard kemudian sibuk membawa hasil belanjaanku masuk ketika aku tiba di Mansion. Berjalan kearah ruang tamu dan merebahkan tubuhku di sofa, entah kenapa rasa lelahku kini bercampur rasa takut. Takut kalau sampai jamuan makan malam nanti, ayahku akan kembali membahas perihal Zayn dan aku kehabisan alasan untuk menghindar dari pertanyaannya perihal hubungan kami. “Ken” ujarnya.
“Ada apa hails” jawabku.
“Aku ada janji dengan seseorang malam ini, jadi maaf
aku tidak bisa menemanimu untuk makan malam bersama nanti” jelasnya.
“Baiklah tidak apa-apa hails, aku bisa mengatasinya
sendiri” ujarku pasrah, membuat tangannya dengan cepat menggenggam tanganku.
“Maaf” katanya.
“It’s ok,
Hails. Don’t worry”
“Kapan kau akan berangkat?”
“Sebentar lagi dia akan menjemputku..”
“Siapa?” tanyaku penasaran.
“Kau paling tau Ken”
“Astaga, Justin lagi? Sungguh?! Tidak adakah pria
lain yang lebih baik darinya?” ungkapku bosan mendengarnya yang saat ini lebih
sering menghabiskan waktu dengan justin.
“Aku itu tipe setia, jangan samakan denganmu.
Astaga..” katanya, membuatku menepis tangannya.
“Sudahlah aku mau bersih-bersih. Kau berhati-hatilah
dengan pria sepertinya..” pesanku seraya bangkit dari keterdudukan dan memasuki
kamar.
“Siap Nona Bos…” jawabnya.
Usai menutup pintu kamar mandi, segera aku pun
bergegas memakai pakaian yang sebelumnya telah aku siapkan untuk dipakai.
Mengenakan atasan berwarna putih dan celana pendek, tidak membuat acara makan
malam nanti terkesan formal dan justru lekat dengan rasa kekeluargaan.
“Nona..” sapa Dani-kepala pelayan di Mansion ini,
tepat ketika aku baru saja keluar dari kamar.
“Ya, ada apa?” tanyaku ramah.
“Sedari tadi Felix lupa menutup pintu gerbang dan
akibatnya Six menghilang, Nona” jelasnya.
“Lalu, sudah kau cari?” tanyaku khawatir.
“Ludo dan Felix sudah berusaha mencarinya sedari
tadi Nona, tetapi mereka belum berhasil menemukan keberadaannya” jelasnya.
“Ceroboh!” tuturku sarkas.
“Suruh mereka cari Six sampai dapat, aku tidak ingin
dengar kalau Six menghilang titik” perintahku yang lantas di anggukan setuju
oleh Dani-sang kepala pelayan.
“Apa ayahku sudah datang?” tanyaku kemudian.
“Belum Nona..” jawabnya.
“Lalu, apa semua makanan sudah dihidangkan?” tanyaku
lagi seraya melangkah kearah meja makan.
“Sudah siap Nona..” jawabnya menunjukkan bahwa meja
makan yang sudah siap untuk di jamu.
“Baiklah aku akan menunggu, kau boleh pergi…”
“Baik Nona” jawabnya seraya berlalu dari hadapanku
menuju kearah dapur kotor, tempat biasa dia beristirahat atau sekedar menunggu
makan malam usai.
Asik men-scroll
handphone dalam genggamanku,
tiba-tiba suara mobil terparkir di pelataran halaman depan terdengar dan sontak
membuatku bangkit dari keterdudukan guna menyambut kedatangan ayahku.
“Hello, Dad.
Welcome to my home...” sapaku hangat dan membuatnya kemudian merentangankan
kedua tangan, sedangkan aku terpaksa harus berjalan menghampirinya.
“Oh God, My princess. I miss you so bad..”
“Are
you okay, right?” tanyanya membawa tubuhku menjauh dari
dekapannya seraya memeriksa tubuhku dengan cara berputar.
“Aku
baik-baik saja, Dad. Come on..” keluhku
yang menjawab rasa khawatirnya. “Okay okay fine..”
“But,
i had something for you girl..” katanya.
“What’s
that, Dad?” tanyaku antusias.
“Ini, anggaplah hadiah ini sebagai permintaan maaf
karena aku tidak bisa datang menemanimu di acara London beberapa hari lalu”
ujarnya “Aku turut menyesal atas apa yang telah terjadi Ken..”
“Andai saja Kris ada disisimu saat kejadian,
keadaannya pasti akan berbeda dan kau tidak harus sampai masuk rumah sakit
lagi?!” tuturnya.
“Sudahlah Dad,
Ibuku tidak bersalah” jelasku.
“Tetap saja dia ceroboh Ken” debatnya.
“Ini semua murni musibah Dad. Ayolah, jangan menyalahkan ibuku terus menerus atau nanti dia akan marah padaku karena kau memarahinya” tebakku, pasalnya ini bukan kali pertama ayahku menyalahkannya dan berujung aku yang terkena imbasnya.
“Baiklah baiklah… Mari kita tinggalkan percakapan ini, perutku juga sudah lapar” ungkapnya, membuatku tertawa dan membawanya menuju ruang makan.
“Aku tidak ingin kejadian kemarin terulang. Jadi,
aku harap kau bisa bekerjasama dengan para bodyguard-ku”
pesannya.
“Jangan khawatir
Dad, aku bisa menjaga diriku sendiri”
“Come on,
apa kau ingin aku cemas selagi aku sedang bekerja Ken? Tidakkah kau kasihan
padaku” katanya.
“Okay Dad,
Okay..” kataku pasrah.
“Thank’s. Take
care okay?!” balasnya seraya mengecup dahiku kemudian berlalu memasuki
mobil Rolls Royce hitam milikknya.
“Dani, tolong kau bereskan semuanya ya?!”
perintahku.
“Baik Nona…” sanggupnya.
Melangkah kearah pintu gerbang sesuai mobil ayahku
keluar dari halaman, tatapan mataku justru jatuh ke arah Mansion sebelah yang mana sudah terang pertanda bahwa mansion itu
telah berpenghuni.
Tapi, lagi pandanganku justru teralih ke kalung
rantai yang biasa terlingkar di leher Six kini berada di tepi jalan. Melangkah
ke arah kalung Six berada, tiba-tiba Ludo datang bersama Felix dari arah yang
berlawanan. “Nona…” panggilnya.
“Bagaimana?” tanyaku.
“Kami tidak menemukannya dimana pun Nona” katanya
dengan nafas yang saling bersahutan dengan Ludo-sang satpam di Mansion-ku.
“Aku
menemukan kalungnya disini..” kataku seraya menunjukkan kalung rantai dalam
genggaman.
“Kita minta saja CCTV
dari Mansion ini Nona” ujarnya
Ludo yang di dukung oleh Felix dengan anggukkan kepala.
“Ludo benar Nona..” setujunya yang mendukung ide Ludo,
membuatku lantas melanjutkan langakah kearah gerbang Mansion ini dan menekan bel
Mansion.
“Ya, ada yang bisa saya bantu Nona?” tanya
sang penghuni baru di Mansion ini,
yang bisa aku tebak seorang satpam sama seperti Ludo. “Begini, saya baru saja
kehilangan seekor anjing tipe Doberman, apa anda melihatnya disekitar sini?”
tanyaku.
“Doberman hitam dengan tali leher hijau?” ujarnya
memberi informasi dan membuatku lantas mengangguk membenarkan ucapannya itu.
“Benar. Apa anda melihatnya?”
“Sebentar ya Nona.. Tunggu disini” katanya yang
tidak membukakan pintu gerbang dan justru kembali masuk kearah dalam Mansion.
Lima menit menunggu sang satpam datang, tidak
disangkan yang datang justru malah mengejutkanku. Sosoknya yang tidak asing
nampak menggendong Doberman milikku.
“Kendall?” ujarnya nampak terkejut.
“Ya, cepat buka gerbangnya dan kembalikan anjingku”
kataku, membuat sang satpam penjaga rumahnya ikut patuh membuka gerbang setelah
mendapat izin anggukkan kepala dari sang majikkan.
“Harry, cepat kembalikan anjingku” pintaku yang
justru jadi mengikuti langkahnya perlahan-lahan masuk ke halaman Mansion miliknya.
“Aku menemukannya didepan gerbang tadi sore, tapi
karena aku tidak memiliki makanan anjing. Aku memberinya daging mentah tadi,
tidak apakan?” tanyanya seraya memeberi alih Six kembali padaku. “Tidak
masalah. By the way, thank’s sudah
mengurus Six dalam beberapa jam ini” ucapku yang tengah menggendong Six.
“Kau pemilik Mansion ini?” tanyaku
“Ya, aku baru
saja pindah kemarin”
“Sendiri?” tanyaku sekali lagi yang dia indahkan
dengan sebuah anggukkan kepala.
“Mau wine
atau kopi?” tanyanya.
“Tidak usah Harry, aku langsung pulang saja”
tolakku.
“Jangan menolak jamuan seorang tetangga Ken”
katanya.
“Baiklah, tapi aku tidak bisa berlama-lama..”
setujuku yang membuat Ludo dan Felix mengambil alih Six dari gendonganku dan
meninggalkan Mansion ini lebih
dahulu.
“Ayo masuk” ajaknya.
“Design interior mu boleh juga” pujiku membuatnya
yang berjalan di depanku tertawa. “Apanya yang lucu” sindirku.
“Kau lucu, Ken” pujinya.
“Kalau kau tertarik aku bisa memberikan nomor
ponselnya”
“Tidak terimakasih, tadi aku hanya berbasa-basi”
ketusku saat dia mulai mempersilahkanku duduk.
“Wine,
kopi, teh atau jus?” tanyanya.
“Wine
boleh” jawabku.
“Aku menyimpan banyak wine dari Italia, do you want?”
tawarnya yang nampak berada didalam ruangan khusus untuk dijadikan wine cellar.
“Zayn pasti banyak menyumbang wine
untukmu, yakan?” tanyaku.
“Tidak. Salah, kau salah?!”
“Aku mampu membelinya dengan uangku sendiri”
tepisnya yang aku indahkan dengan mengukkan kepala.
“Tentu saja kau mampu, pekerjaanmu saja sudah
tingkat internasional karena bekerja sama denganku” sindirku bertepatan dengan
dia yang membawa wine jenis Le Macchiole Paleo dalam genggaman.
“Kau itu hobi sekali memuji diri sendiri heuh?”
tanyanya membuatku menelan siliva kasar.
“Kenyatannya begitu kan?”
“3 tahun aku bekerja sebagai photographer, mana mungkin aku tidak mampu membeli banyak wine. Lagi pula, sebelum kita bekerja
sama. Aku sudah sering memotret Gigi dan keluarganya” jelasnya tidak mau kalah.
“Aku muak mendengar nama sahabatmu itu. So, bisakah kau berhenti membicarakan
soalnya?” ungkapku yang membuat dia kemudian berhenti menuang wine dalam gelasku.
“Kenapa? Kau cemburu?”
“Aku tidak cemburu! Aku hanya tidak suka seseorang
membicarakan tentangnya apalagi keluarganya dihadapanku” ungkapku. “Kenapa?”
tanyanya yang menimbulkan kerutan di dahi.
“Aku tidak suka, tidakkah kau paham?!” ucapku.
“Okay okay,
baiklah aku tidak akan membicarakan tentangnya di hadapanmu lagi”
“Sudahlah, ini sudah malam. Aku harus pulang..”
ucapku seraya menenggak habis minuman yang dia suguhkan.
“Terimakasih sudah menjamuku”
“Sama-sama, terimakasih juga sudah mau menjadi tamu
pertama di Mansionku Ken” ucapnya seraya mengantarku hingga halaman depan Mansion-nya.
“Nona…” panggil Ludo dari arah pintu gerbang.
“Ya, ada apa?” tanyaku.
“Tuan Brian kembali, karena ponselnya tertinggal dan
sekarang dia tengah menunggu anda Nona” jelasnya membuatku menoleh kearah Harry
yang baru saja tiba di sisi sebelah kananku.
“Harry, apa kau mau mampir ke Mansion-ku?” tawarku.
“Lain waktu saja, ini sudah malam” balasnya
membuatku kemudian berpamitan kepada Harry. Namun, bertepatan dengan itu ayahku
berjalan menghampiri kami.
“Ken, kau darimana?” tanyanya.
“Aku mencari Six dan ternyata tetangga sebelah yang
menemukannya” Jelasku membuatnya mengangguk mengerti.
“Lain kali jangan ceroboh girl” peringatnya.
“Sifat cerobohku sepertinya turunan dari-mu Dad” godaku seraya melangkah bersamanya kembali ke halaman Mansionku dengan tertawa saling mengejek satu sama lain.
Komentar
Posting Komentar